Ada Pengadilan Air di Andalusia

Umat Islam memperkenalkan sistem irigasi intensif dan terpusat. Ini diterapkan mulai dari Andalusia hingga Timur Jauh, dari Sudan hingga Afghanistan. Sistem irigasi kuno Islam diperbaiki kemudian disesuaikan dengan sistem baru dan dikembangkan dengan teknik baru.

Penulis Kitab Al-Filaha, Abu’l Khair, mengusulkan empat prosedur untuk mengumpulkan air hujan serta sumber air yang lain. Ia juga menekankan pentingnya air hujan untuk kebaikan pohon zaitun melalui stek batang.

Pada masa itu, air dipandang sebagai komoditas yang sangat berharga. Karena itu, air dikelola lewat peraturan yang ketat sehingga penggunaan air yang sia-sia sangat dilarang. Dari sini, muncullah ide pembuatan pipa saluran air bawah tanah untuk menghindari penguapan. Hal ini dikenal dengan sistem qanats.

Di Spanyol, peraturan ketat yang sama pun sudah berlaku. Air diarahkan dari satu kanal ke kanal lain dan digunakan lebih dari sekali. Jumlah itu diatur secara akurat.

Semua perselisihan dan pelanggaran hukum terhadap penggunaan air ditangani oleh hakim yang dipilih sendiri oleh petani.

Pengadilan ini disebut Pengadilan Air. Persidangan pada pengadilan ini digelar setiap Kamis di depan masjid agung. Sepuluh abad kemudian, pengadilan semacam ini masih ada di Valensia. Hanya saja, sidang digelar di depan pintu katedral.

(sumber;republika/internet)