Bappenas: Air Bersih Akan Mencapai Kelangkaan Absolut Tahun 2040

Sebuah data yang dikeluarkan Bappenas dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KHLS) RPJM 2019 memproyeksikan ketersediaan air akan mencapai kelangkaan absolut pada 2040.

Kelangkaan absolut atau 'absolut scarcity' bisa diartikan jumlah sumber daya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.

Kelangkaan absolut ini tidak peduli seberapa banyak mencari sumber tambahan, tidak akan bisa dipenuhi atau didapat. Kekurangan air ini akan menyebabkan kekeringan, haus, gagal panen dan kelaparan.

Dalam proyeksi ketersediaan air tersebut, sejak tahun 2000 terlihat kebutuhan air di Jawa sudah masuk 'scarcity' atau langka.

Tahapan dari kebutuhan sumber daya ini adalah 'No Stress' (Tanpa Tekanan), 'Stress' (Ada Tekanan), 'scarcity' (Ada Tekanan Kelangkaan), dan 'absolut scarcity' (kelangkaan absolut atau mutlak).

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Imam Santoso membenarkan kondisi air di Jakarta saat ditanya masalah krisis."Iya (krisis air)," kata Imam.

Dia mengatakan, Jakarta memiliki penduduk sekitar 12 juta. Dari jumlah tersebut, baru 60% yang mendapat akses air PDAM yang merupakan air bersih. Hal ini memperkuat kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Di mana, meski orang mengira air tersedia di mana-mana namun Jakarta kekurangan pasokan air.

"Jakarta itu penduduknya sekitar 12 juta, kita butuh air sangat banyak. Saat ini baru 60% airnya di-supply dari air PDAM, air bersih. Tapi sisanya kan diambil dari air tanah," kata dia.

Lanjutnya, hal itu disebabkan oleh minimnya pasokan sumber air baku. Di sisi lain, jaringan air juga masih minim. "Kita tidak bisa menyetop masyarakat, 'enggak boleh ambil air', mereka butuh air kok," ujar dia.

Dia menambahkan, pemanfaatan air tanah sendiri memicu penurunan muka tanah. Sebab itu, pemerintah tengah mengupayakan tambahan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta. Di antaranya, dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat dan Karian di Banten.

"Kita berharap kebutuhan air baku di Jakarta bisa terpenuhi," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan air adalah kebutuhan yang seringkali ketersediaannya dilupakan oleh masyarakat. Padahal kebutuhan terhadap air sangat tinggi.

"Orang masih saja mengira air tersedia di mana-mana dan supply nya banyak. Padahal tidak di Jakarta misalnya, itu gawat sekali sekarang kebutuhan 28 kubik tapi suplainya hanya 18, jadi defisit. Pulau Jawa selalu jadi perhatian karena memang masyarakat banyak di Jawa ini, " kata Bambang.

(sumber;cnbcindonesia/internet)