Hebatnya Jepang Punya Sistem Pengendalian Banjir Paling Modern Di Dunia

Kota Tokyo, Jepang mempunyai sistem anti banjir yang canggih. Rahasianya ada di gorong-gorong dan sebuah katedral yang dibangun di bawah tanahnya.

Melansir BBC, Selasa (4/12/2018), Tokyo masih menjadi kota destinasi dunia. Sistem anti banjir ini juga menjadi daya tarik tersendiri akan kecanggihan teknologi dari Negeri Sakura.

Sistem pertahanan banjir Tokyo dimulai dari pembangunan bendungan, tanggul kali dan gorong-gorong dan katedral untuk mengantisipasi banjir yang rumit. Tentu, katedralnya tidaklah dipakai untuk ibadah melainkan hanya saja bentuknya seperti katedral.

Untuk melindungi ibu kota Jepang, apakah itu akan mampu mengatasi perubahan iklim?

Untuk mengunjunginya harus menuruni tangga panjang ke dalam tanah. Sesampainya di ruangan besar, inilah katedral yang memiliki puluhan pilar seberat 500 ton yang menopang langit-langitnya.

Jepang adalah destinasi bagi para ahli bencana dan manajemen risiko dan katedral ini adalah salah satu lokasi utamanya. Katedral air tersembunyi di bawah tanah sedalam 50 meter.

Namanya Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC). Adalah sebuah sistem terowongan sepanjang 6,3 km dan ruang-ruang silindris yang menjulang tinggi yang melindungi Tokyo bagian utara dari sergapan banjir.

Tokyo dilintasi 15 sungai dengan 5 sungai ada di jantung kota yang harus dibeton hingga dasar sungainya. 10 Lagi telah dibendung dari hulu juga menggunakan sistem kanal.

Urbanisasi yang tinggi, industrialisasi yang cepat dan penggunaan air yang tidak hati-hati menyebabkan beberapa daerah tenggelam dan memperburuk kerentanan kota.

Jepang telah menghadapi banjir selama berabad-abad, sistem Tokyo saat ini benar-benar dimulai pembangunannya pasca perang. Topan Kathleen menyerang pada 1947, menghancurkan sekitar 31.000 rumah dan menewaskan 1.100 orang, satu dekade kemudian Topan Kanogawa (Ida) menghancurkan kota ketika sekitar 400 mm hujan dalam seminggu.

Jalanan, rumah, dan pusat bisnis terendam. Setiap tahunnya, rata-rata curah hujan yang dimiliki Tokyo adalah 1530 mm, belum sebanding dengan Jakarta dengan curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2000 mm tiap tahunnya.

Bahkan pada 1950-an dan 1960-an, ketika Jepang pulih dari perang, pemerintah menginvestasikan 6-7% dari anggaran nasional pada bencana dan pengurangan risiko. Hal ini dijelaskan Miki Inaoka, seorang ahli bencana di Japan International Cooperation Agency (JICA).

Para perencana Tokyo harus waspada terhadap jenis banjir yang berbeda-beda. Jika hujan lebat turun ke hulu, mungkin sungai menghancurkannya dan membanjiri daerah sentral di hilir dan mengalahkan sistem drainase di daerah itu.

Setelah beberapa dekade merancang dan membangun konstruksi non-stop, ibu kota Jepang kini mempunyai puluhan bendungan, waduk dan tanggul. Di bawah tanah, Anda akan menemukan sebuah labirin terowongan bawah tanah di samping jalur kereta bawah tanah dan jaringan pipa gas yang berselang-seling kota.

Saluran gorong-gorong dan katedral MAOUDC dibangun dengan biaya senilai USD 2 miliar yang merupakan salah satu prestasi teknik paling mengesankan di ibu kota Jepang. Selesai pada tahun 2006 setelah 13 tahun pengerjaan, itu adalah fasilitas pengalihan banjir terbesar di dunia dari Tokyo.

Kanal akan menyedot air dari sungai kecil dan menengah di Tokyo Utara dan memindahkannya ke Sungai Edo yang lebih besar juga dapat menampung volume air besar dengan lebih mudah. Ketika salah satu sungai ini meluap, air akan jatuh ke salah satu dari lima tangki silinder setinggi 70 meter yang tersebar di sepanjang saluran.

Masing-masing tangki ini cukup besar untuk menampung pesawat luar angkasa atau Patung Liberty dan mereka saling terhubung melalui jaringan terowongan bawah tanah sepanjang 6,3 km. Saat air mendekati Sungai Edo, katedral akan mengurangi alirannya, sehingga pompa dapat mendorongnya ke sungai.

Mengutip data dari ITB (Institut teknologi Bandung), katedral raksasa ini memiliki 78 pompa dan 59 pilar beton. Fasilitas yang diberikan untuk katedral ini memungkinkan air untuk berpindah sebanyak 200 ton tiap detiknya. Jumlah ini mampu memenuhi 25 kolam renang dalam taraf Olimpiade.

Untuk menyerap air hujan, komplek tersebut dilengkapi dengan 59 turbo pump dan total kapasitas lebih dari 14 ribu tenaga kuda. Bangunan ini dirancang untuk banjir paling parah.

Merupakan sistem drainase terbesar di dunia, prinsip yang digunakan dari katedral ini sebenarnya sangat sederhana. Air yang ada dari seluruh sudut kota akan mengalir melalui sumur dengan ketebalan 10 meter ke dalam 5 kolam beton raksasa. Kelima kolam beton ini memiliki lebar 32 meter dan tinggi 65 m.

Kata Tsuchiya, Direktur Pusat Penelitian Riverfront Jepang, Tokyo tidak siap untuk menghadapi hujan lebat yang bisa datang dengan pemanasan global. Di daerah dataran rendah Tokyo, sekitar 2,5 juta orang bisa terkena banjir jika terjadi gelombang pasang tinggi dan nasib mereka harus menjadi prioritas perencanaan utama.

Sebelumnya pada tahun 2018, hujan lebat menerpa Jepang bagian barat dan menewaskan ratusan orang. Jutaan orang lainnya mengalami kerugian ekonomi ketika sungai-sungai meluap dan kalau itu terjadi di Tokyo, ibu kota Jepang ini akan hancur.

Hal serupa juga meneror ibu kota negara-negara dunia. Seperti London, menempatkan banjir sebagai ancaman nomor satu, karena seperlima dari kota terletak di dataran banjir Sungai Thames.

Daerah ini dilindungi dengan baik oleh tanggul, tetapi para ahli yakin akan ada saatnya ketika kerangka pengaman itu gagal. Hingga kini semua orang mengawasi Tokyo, mengukur seberapa baik penanganan badai dan hujan mengujinya. 

(sumber:detik.com/internet)