Ini Pendapat MUI Soal Tehnologi Air Bersih Berbahan Baku Tinja

Pemerintah DKI Jakarta melalui Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PAL) Jaya mengembangkan alat pengolah limbah tinja menjadi air bersih. Alat bernama PAL-Andrich Tech System itu dapat mengubah limbah tinja menjadi air bersih dalam waktu 30 menit. Air yang dihasilkan dapat digunakan untuk utilitas, seperti MCK dan mengairi kebun atau kolam.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan mengatakan air hasil olahan tinja itu masih harus diuji jika ingin digunakan untuk keperluan sehari-hari, apalagi bila digunakan berwudu.

Pengujian itu harus mencakup dua aspek, yakni kebersihan dan kehalalan. "Pada prinsipnya air yang digunakan harus suci dari najis agar dapat menyucikan," kata Amirsyah melalui pesan kepada Tempo, Sabtu, 26 Mei 2018.

Menurut Amirsyah, alat pengujian itu pun harus dengan teknologi yang memenuhi standar halal dan terjamin kualitas kebersihannya dari bakteri serta virus.

Pengujian akan lebih penting, ujar Amirsyah, jika air akan dikonsumsi, digunakan untuk wudu, dan mencuci pakaian salat. "Sehingga dapat dijamin airnya thayib (bersih) dan halal," kata Amirsyah.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meluncurkan Andrich Tech System itu pada Rabu, 23 Mei 2018. Sandiaga mengatakan air olahan itu dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan.

Menurut Sandiaga Uno, air hasil olahan Andrich Tech itu lebih bersih dari air Danau Sunter, tempat dia berenang beberapa waktu lalu.

Direktur Utama PD PAL Jaya Subekti tak menyarankan air olahan tinja itu dikonsumsi. Kendati sudah bersih, Subekti berpendapat bahwa ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan dalam menentukan air hasil olahan tertentu dapat dikonsumsi atau tidak. "Tidak hanya an sich memenuhi secara bersih ya, tapi secara budaya dan lain-lain juga," kata Subekti.

(sumber:temponews/internet)