Ketika NASA Menemukan Molekul Air Bergerak di Permukaan Bulan

Jejak air ditemukan di Bulan melalui pengamatan molekul air yang bergerak di Bulan pada siang hari dalam proyek Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang dilakukan lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (NASA), seperti dilaporkan laman mashable. Minggu(10/03/2019)

Sebelumnya, para ilmuwan berpendapat bahwa Bulan  gersang dan ada serpihan es karena kurangnya sinar matahari di dekat kutub. 

Air permukaan ini ada sebagai molekul air yang terikat ke tanah Bulan. Molekul-molekul ini telah diketahui jauh dari khatulistiwa Bulan, pada garis lintang yang lebih tinggi, dan menunjukkan pergerakan ketika permukaan memanas.

Jejak air terkecil telah menarik minat para peneliti, karena menunjukkan bahwa ada harapan untuk lebih banyak sumber daya, dan berpotensi juga bagi kehidupan. Untuk mempelajari hal itu, NASA menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan untuk memahami perubahan harian dalam tingkat hidrasi di permukaan Bulan.

Studi ini merupakan langkah penting dalam memajukan kisah air di Bulan dan merupakan hasil akumulasi data dari misi LRO selama bertahun-tahun. Ilmuwan proyek LRO John Keller, menjelaskan bahwa penelitian ini adalah pengamatan utama, karena hasilnya akan membantu memahami siklus air bulan dan bagaimana mengaksesnya.

Teori sebelumnya menyatakan bahwa molekul-molekul air ini adalah hasil ion hidrogen dari angin matahari yang berasal dari matahari. Namun, itu artinya bahwa kadar air akan berkurang setiap kali Bulan akan memasuki bayangan Bumi, yang tidak terjadi.

Jejak air ditemukan di Bulan melalui pengamatan molekul air yang bergerak di Bulan pada siang hari dalam proyek Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang dilakukan lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (NASA), seperti dilaporkan laman mashable, Ahad, 10 Maret 2019.

Sebelumnya, para ilmuwan berpendapat bahwa Bulan  gersang dan ada serpihan es karena kurangnya sinar matahari di dekat kutub. 

Air permukaan ini ada sebagai molekul air yang terikat ke tanah Bulan. Molekul-molekul ini telah diketahui jauh dari khatulistiwa Bulan, pada garis lintang yang lebih tinggi, dan menunjukkan pergerakan ketika permukaan memanas.

Jejak air terkecil telah menarik minat para peneliti, karena menunjukkan bahwa ada harapan untuk lebih banyak sumber daya, dan berpotensi juga bagi kehidupan. Untuk mempelajari hal itu, NASA menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan untuk memahami perubahan harian dalam tingkat hidrasi di permukaan Bulan.

Studi ini merupakan langkah penting dalam memajukan kisah air di Bulan dan merupakan hasil akumulasi data dari misi LRO selama bertahun-tahun. Ilmuwan proyek LRO John Keller, menjelaskan bahwa penelitian ini adalah pengamatan utama, karena hasilnya akan membantu memahami siklus air bulan dan bagaimana mengaksesnya.

Teori sebelumnya menyatakan bahwa molekul-molekul air ini adalah hasil ion hidrogen dari angin matahari yang berasal dari matahari. Namun, itu artinya bahwa kadar air akan berkurang setiap kali Bulan akan memasuki bayangan Bumi, yang tidak terjadi.

(sumber:tempo/internet)