Metode Resistivity Di Gunakan Mahasiswa UI Untuk Temukan Sumber Air Bersih

Empat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memberikan solusi guna mengatasi masalah kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih dengan memanfaatkan teknologi metode resistivity.

Keempat mahasiswa itu adalah Ade Rama Tanjung Putra (angkatan 2015), Luthfan Togar Harahap (2014), Miftahul Umam (2017), dan Tiva Rahmita (2017). Mereka berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

“Implementasi buah pikiran para mahasiswa UI ini dilakukan di Desa Sirnajaya, Bogor, yang tengah mengalami kesulitan air bersih, di mana para warga harus berjalan sepanjang 5-6 kilometer untuk mendapatkan air bersih,” ujar juru bicara UI, Egia Etha Tarigan, kepada Tempo, Selasa, 14 Agustus 2018.

Ketua tim peneliti, Ade Rama, menceritakan kesulitan warga Desa Sirnajaya dalam mengakses air bersih. Selain harus berjalan kaki sepanjang 5-6 kilometer, warga harus menyusun pipa-pipa sepanjang jarak tersebut untuk mendapatkan air bersih. Namun tidak semua warga sanggup memasang pipa karena kendala ekonomi.

“Kendala berikutnya, mata air yang masyarakat gunakan sangat keruh dan cenderung berlumpur, padahal air tersebut digunakan sebagai air minum, mandi, bahkan memasak,” ucapnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Ade Rama dan tim mencari solusi melalui pemanfaatan metode resistivity agar warga desa memiliki sumber air bersih lain sehingga kebutuhan air bersih dapat terpenuhi walaupun musim kemarau datang.

Metode resistivity dapat memprediksi secara akurat letak lapisan aliran air sehingga dapat meminimalisasi biaya pengeboran akibat risiko kesalahan penentuan lokasi pengeboran sumur.

“Selama pelaksanaan program dilakukan survei geomorfologi dan marking lokasi, akuisisi data dengan metode resistivity, pengolahan dan interpretasi data. hingga pemetaan data resistivity dan topografi,” tuturnya.

Menurut Ade, hasil penelitian menunjukkan adanya potensi sumber air di dekat tanah wakaf masjid. Pengeboran potensial dilakukan di area tersebut.

“Ditemukannya titik sumur potensial ini akan dilanjutkan dengan proses pengeboran untuk memulai pembangunan sumber air di dekat pemukiman warga Desa Sirnajaya,” katanya.

Egia menjelaskan, penerapan metode resistivity memiliki potensi keberlanjutan yang besar, yaitu dengan mereplikasi program yang sama untuk diterapkan di wilayah lain yang memiliki permasalahan sama.

“Diharapkan karya mahasiswa UI ini mampu membantu pemerintah dalam mewujudkan ketersediaan dan pengelolaan air bersih, yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

(sumber:tempo.co/internet)