Mimpi 100% Akses Air Bersih.

KETERSEDIAAN dan kemudahan akses air bersih merupakan elemen penting dalam kehidupan.Namun sampai saat ini ketersediaan dan akses terhadap air bersih menjadi salah satu persoalan pelik yang kita hadapi. Bahkan, dari delapan target yang ditetapkan dalam millenium development goals (MDGs), banyak kesulitan mencapai target peningkatan akses terhadap air bersih.

Di perkotaan, air bersih menjadi komoditas yang langka dan relatif mahal. Sementara di perdesaan orang juga menjerit kesulitan untuk mengakses air bersih karena berbagai alasan. Ancaman krisis air bersih dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi fokus perhatian dunia internasional.

Indonesia

Dalam acara World Water Forum II di Den Haag (Maret, 2000) disebutkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami krisis air pada tahun 2025. Krisis air terjadi karena meningkatnya kebutuhan air yang dipicu meningkatnya populasi, aktivitas, berkembangnya industri dan lainnya. Sementara dari sisi ketersediaan air bersih justru semakin menurun.

Fakta bahwa kita tidak bisa menekan laju eksploitasi air tanah. Sehingga menyebabkan dampak menurunnya muka air tanah, permukaan tanah dan memicu terjadinya intrusi air laut. Situasi ini telah terjadi dihampir semua kota-kota besar yang berada di kawasan pesisir, seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya. Kondisi ini diperburuk dengan rusaknya hampir semua kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) karena praktik penebangan hutan, konversi lahan, pembangunan permukiman, industri dan lainnya.

Rusaknya DAS menyebabkan menurunnya kapasitas pasokan air baku ke perusahaan daerah air minum (PDAM). Karena hampir semua PDAM masih mengandalkan pasokan air sungai. Belum lagi diperberat dengan semakin meningkatnya intensitas kasus-kasus pencemaran sungai dan air tanah, akibat pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik. Tidaklah mengherankan bila hampir semua PDAM di seluruh Indonesia mengalami kesulitan air baku. Sehingga cakupan layanan air bersih sangat rendah jauh dari yang kita harapkan bersama. Dari 402 PDAM, umumnya baru melayani sebagian besar masyarakat di perkotaan, dan hanya ada 31 PDAM yang memiliki lebih dari 50.000 sambungan.

Data Perpamsi sampai periode Januari 2016, baru 67% rakyat Indonesia yang bisa mengakses air minum. Artinya, masih banyak masyarakat kita yang belum mendapatkan akses air bersih yang aman, dan jumlah tersebut semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk dan meningkatnya perekonomian. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, saat ini ada sekitar 72 juta orang Indonesia yang belum dapat mengakses air minum yang layak. Jika dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara, kita hanya lebih baik dari Timor Leste dan Kamboja.

Belum Diimbangi

Di tengah kondisi sumber daya air kita yang belum ada tanda-tanda membaik, menjadi terhibur sekaligus terheran-heran melihat optimisme pemerintah mencanangkan target cakupan layanan akses air minum mencapai 100% di tahun 2019, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Sayangnya optimisme, dan hasrat yang tinggi tersebut belum diimbangi dengan ketepatan, kecepatan dan keberanian untuk menyelesaikan berbagai permasalahan penyebab krisis air.

Sampai saat ini, belum ada perubahan yang dilakukan secara mendasar untuk menuju pengelolaan sumber daya air ke arah yang lebih baik. Faktor-faktor penyebab krisis air belum sepenuhnya dikelola dengan baik. Mendesak untuk segera dilakukan perubahan praktik pengelolaan air secara tepat, cepat dan simultan pada semua stakeholder sumber daya air baik itu unsur pemerintah, pekerja dan masyarakat. Perubahan di sektor pemerintahan dapat dilakukan dengan pembuatan kebijakan untuk mengontrol eksploitasi, kerusakan DAS dan pencemaran lingkungan yang disertai mekanisme dan instrumen pengawasannya serta ketegasan dalam penindakannya.

Hal lain yang mendesak adalah pembenahan sarana prasarana distribusi air dari sumber air ke rumah tangga untuk mencegah kebocoran air yang mencapai kisaran 30%. Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus kepada semua pekerja di sektor penyediaan air. Baik dalam aspek kapasitas, kompetensi dan kesejahteraan serta mengintensifkan komunikasi, edukasi dan informasi publik tentang pentingnya efisiensi dan konservasi air.

(Djoko Rahardjo. Staf Pengajar Fakultas Bioteknologi UKDW, Penggerak Ecoforum DIY dan Anggota Groundwater Working Group. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 1 April 2017)

#sumber :krjogya.com