Pemanfaatan Air Hujan Sebagai Air Bersih

Di Indonesia memanfaatkan air hujan dengan jumlah curah hujan di Indonesia mencapai hampir 2.500 mm pertahun (Worldbank, 2015). Curah hujan yang tinggi seharusnya diberdayakan dengan semaksimal mungkin, namun saat ini diperkirakan hanya sekitar 30 persen air hujan menjadi sumber air yang potensial tertampung pada danau alam, danau buatan, waduk-waduk, rawa-rawa dan sebagian lagi meresap ke dalam tanah sebagai air tanah.

Sementara sekitar 70 persen air hujan menjadi aliran air permukaan (surface run off) yang masuk ke sungai-sungai dan sebagian terbuang percuma ke laut (Mochtar, 2002).

Curah hujan yang tinggi seringkali menghawatirkan, bahkan terkadang hujan yang deras sangat meresahkan karena seringkali menimbulkan banjir, sebenarnya hal ini tidak perlu dikhawatirkan jika pengelolaan air berjalan dengan baik, seperti tersedianya tampungan air yang mamadai.

Di lain pihak hujan merupakan yang sangat ditunggu-tunggu khususnya rumah tangga yang sumber air minumnya adalah air hujan. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, menunjukkan persentase rumah tangga yang sumber air minumnya adalah air hujan cukup sedikit, terdapat 2,45 persen rumah tangga yang memanfaatkannya.

Secara nasional angka ini sangat kecil, namun ada sebuah provinsi yaitu Kalimantan Barat yang pemakaian air hujan sebagai sumber air minum mencapai 41,72 persen. Angka ini tidak begitu berbeda jauh dibandingkan dengan tahun 2015-2018.

Air hujan sebagai sumber air minum adalah salah satu solusi dari kelangkaan air bersih, namun sangat perlu diperhatikan bagaimana sebenarnya kualitas air hujan sekarang ini apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak.

Peraturan kualitas air dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Parameter yang digunakan terdiri dari parameter fisika, kimia anorganik, kimia organik, mikrobiologi, dan radioaktivitas.

(sumber;internet)