Pemkot Tangerang Perbanyak Sarana Alternatif Wisata dan Penghijauan Lingkungan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, akan memperbanyak taman tematik sebagai fasilitas ruang publik bagi masyarakat dalam mengembangkan kreativitas.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, pemerintah Kota Tangerang setiap tahun membangun taman. Dari 140 taman yang telah dimiliki pada 2015, bertambah menjadi 155 lokasi taman pada 2016.

Pemkot membuat sembilan taman tematik pada 2015 dan bertambah 12 taman lagi pada 2016 sehingga saat ini Kota Tangerang memiliki 23 taman tematik. Keberadaan taman tematik, lanjut dia, akan terus ditambah karena menjadi pusat kegiatan warga. Salah satu yang dilaksanakan adalah Taman Gajah Tunggal di Jalan Perintis Cikokol.

Dijelaskannya, Taman Gajah Tunggal menjadi salah satu bagian dari upaya Pemkot Tangerang menyediakan fasilitas publik bagi masyarakat terutama melalui taman tematik. "Ini kami lakukan selain sebagai bagian dari penghijauan kota, juga sebagai sarana wisata alternatif masyarakat Kota Tangerang," ujar dia di Tangerang.

Komitmen Pemkot Tangerang untuk mengembangkan pembangunan berbasis lingkungan, juga bisa ditunjukkan lewat berbagai program yang telah dilaksanakan.

Seperti Program Kampung PHBS yang melibatkan masyarakat untuk bisa lebih peduli dan merawat lingkungan sekitarnya agar bisa lebih asri dan sehat sehingga tidak mengherankan bila hampir setiap kelurahan atau gang yang berubah lebih warna-warni.

Program Adiwiyata telah berjalan sejak 2011/2012 dan kini telah terbentuk sebanyak 200 sekolah adiwiyata dengan berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP dan SMA.

Belum lagi konsep industri hijau dan Eco-Office, yang menjadi bagian dari mewujudkan kota sehat. Sejumlah kawasan industri yang diterapkan industri hijau yakni kawasan Kebon Besar Kecamatan Batuceper, Kawasan Industri Aster di Tanah Tinggi, Kawasan Pembangunan Situ di Kecamatan Benda, Kawasan Industri Manis dan di daerah Jatiuwung. Untuk perkantoran sehat, Pemkot Tangerang menerapkan Kantor Ramah Lingkungan atau Eco-Office yang dilaksanakan di pusat pemerintahan, kecamatan, hingga kelurahan. 

(sumber:harianekonomiNeraca)