Peneliti Berharap Penghijauan Harus Banyak di Kota Tangerang Untuk Mencegah Polusi Udara

Tingkat pencemaran atau polusi udara di Kota Tangerang semakin tahun semakin memburuk pada dua tahun ke belakang.

Hal itu dikarenakan ramainya kendaraan pribadi di Kota Tangerang menimbulkan berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan polusi udara.

Tak hanya itu, banyaknya aktivitas industri di kota seribu industri tersebut juga menimbulkan masalah serupa yakni polusi udara.

Menurut Peneliti Komunikasi Lingkungan Mirza Shahreza, dari banyaknya aktivitas di atas, polusi udara di kota Tangerang sudah tercemar dan memburuk dalam dua tahun terakhir.

"Dari data tahun 2017-2018 memang ada peningkatan pencemaran udara terutama berbanding lurus dengan peningkatan industri seperti pabrik," kata Mirza melalui sambungan telefon, Kamis (10/1/2019).

Ia juga mengatakan, pemerintah Kota Tangerang memang tengah gencar meningkatkan investasi industri.

Walau demikian, Mirza menjelaskan, harus tetap mempertimbangkan dampak lingkungan terutama polusi udara.

Sebab, hal itu dapat menganggu kesehatan warga Kota Tangerang yang berdekatan dengan pabrik atau yang biasa bekerja di lapangan.

"Belum lagi dari pencemaran perkotaan dari timbal yang disebabkan polusi kendaraan sehingga dampak kesehatan pernafasan untuk balita yang hidup di kota metropolitan ini menjadi suatu pertimbangan agar dapat menciptakan keseimbangan lingkungan," kata dia.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Tangerang, pergerakan orang dan kendaraan dapat mencapai 3,1 juta perharinya.

Mahasiswa doktoral IPB Komunikasi Lingkungan itu mengatakan, jumlah kendaraan yang melintas sebanyak tiga kali lipat dari kendaraan asli di Kota Tangerang. 

Hak itu, menurutnya dapat berdampak pada akumulasi polusi udara di Kota Tangerang. 

Dirinya mengimbau masyarakat untuk mewaspadai Polusi udara di Kota Tangerang yang membahayakan kesehatan.

"Penghijauan kota perlu dilakukan secara masif untuk membentuk paru-paru hijau kota. Perlu menciptakan keseimbangan yang memang masalah lingkungan kita harus berpikir holistik dan sistematik bahwa semua stakeholders wajib terlibat," kata Mirza.

(sumber:tribunjakarta/internet)