Pohon Bambu Penyelamat Mata Air dan Resapan Air Bersih

Tahun 1996, Narsim (50) warga Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) masih menjadi tukang kebun. Urusannya adalah memelihara kebun di desa setempat. Ketika itu, ia ditugasi untuk menanam bambu.

Ada 90 rumpun bambu yang harus ditanam di salah satu areal yang dekat dengan air terjun, tepatnya di sisi utara desa setempat. Lokasinya naik turun, tidak rata. Air terjun dan aliran sungai kecil ada di bagian bawah, sehingga bambu mulai ditanam dari bagian atas menuju ke bawah. Areal secara keseluruhan sekitar 5 hektare (ha).

Setelah 13 tahun lamanya, bambu yang ditanam oleh Narsim, telah memenuhi lahan seluas 5 ha tersebut. Sehingga, kalau dulu wilayah setempat hanya semak belukar, kini telah berubah menjadi rimbu dipenuhi bambu berbagai jenis.

“Saat awal saya menanam, ada 90 rumpun bambu yang harus ditanam. Jenisnya beragam. Sebagian dari lokal Banyumas dan sekitarnya. Namun sebagian besar dari Lampung, Pulau Sumatera,” kata Narsim.

Ia mengatakan meski menanam 90 rumpun bibit bambu, namun ternyata tidak seluruhnya hidup.

“Saya juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena terbawa air atau tertimbun tanah. Kalau saat sekarang yang benar-benar berhasil hidup sebanyak 38 rumpun bambu berbagai jenis. Ada yang berasal dari lokalan Banyumas, ada pula dari luar daerah seperti Lampung. Namanya macam-macam,” ujarnya.

Narsim menerangkan, beberapa jenis bambu yang cukup unik di antaranya adalah bambu merak, bambu kuda, dangkil dan bambu duri.

“Kalau bambu merak, tumbuhnya tidak ke atas saja, sebagian besar malah ke samping. Sedangkan untuk bambu kuda, ada pola garis pada ruas-ruas batang bambu. Sementara kalau jenis dangkil, batangnya tak lurus, karena setiap ruas berbeda. Kalau bambu berduri, hampir seluruh batangnya ada durinya. Masing-masing bambu memang memiliki karakteristik. Hanya saja, sampai sekarang nama-nama untuk bambu belum dilengkapi,” jelasnya.

Ia mengatakan tujuan awal penanaman bambu di Desa Karangsalam itu adalah untuk mengamankan mata air. Sebab, bambu sangat bagus sebagai penyerap air. Dengan demikian, kalau musim kemarau pasokan air tetap masih lancar.

“Intinya adalah melakukan penyimpanan air dengan menanam pohon bambu. Karena, bambu sangat bagus untuk menyerap air. Sehingga ketika musim kemarau tiba, kami tidak mengalami kekurangan air. Apalagi warga di Baturraden, seperti Karangsalam dan Kemutug Lor, sangat bergantung dari pasokan mata air. Inilah sebetulnya yang menjadi tujuan utama penanaman bambu,” tandasnya.

Philip Mahalu dari CIFOR, dilansir kompas.com menyebutkam kalau tanaman bambu menyerap 90% air hujan, 10% menguap. Sementara dari situs Bamboe Indonesia menyebutkan, berdasarkan riset dari ahli bambu LIPI Prof Elizabeth A Widjaja kalau peran bambu sangat penting. Apalagi 12% jenis bambu dunia yang berjumlah 120 spesies, ada di Indonesia.

Bambu memiliki keunggulan, di antaranya adalah tumbuhnya yang cepat, lebih fleksibel dibanding kayu dan multiguna. Bambu mampu menghindari erosi, memperbaiki kandungan air tanah dan renewable-sustainable. Peneliti Walter Liese menyebutkan produksi biomassa tujuh kali lipat dari pohon lainnya dengan prodikso 50-100 ton setiap ha.

Bahkan, penelitian di China menyebutkan kalau hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240% jika dibandingkan hutan pinus. Penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara di India mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam 4 tahun.

Berdasarkan laporan penelitian tentang hutan di China, dedaunan bambu yang berguguran di hutan bambu terbuka paling efisien di dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain.

Demikian juga dengan penelitian Prof Koichi Ueda dari Kyoto University menyebutkan, kalau sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 sebanyak 62 ton/ha/tahun, sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/ha/tahun. Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil fotosintesis 355 lebih banyak dari pohon lain.

Ternyata, apa yang dikatakan oleh Narsim, telah dibuktikan melalui berbagai macam riset yang ada.

“Kalau sekarang, tanaman bambu di Karangsalam sudah mulai tertata dan dapat dinikmati oleh pengunjung. Setidaknya ketika mereka datang ke sini, pasti merasakan sejuk karena rimbunnya pohon bambu,”ujarnya.

(sumber;mongabay/internet)